Senin, 02 September 2013

Ngantuk, Lapar Menunggu Kelar

Sedari pagi segala sesuatunya telah disiapkan. Masak buat anak anak ma suami, nyuapin baby. Beres semuanya si baby langsung dibawa sama pengasuhnya (titip tetangga) hihihi. Uang buat setor, KTP dan jiwa raga yang dimaksimalkan (duehh bahasanaya, hehehe). Tak lupa adu argumen dulu ma suami, ngebahas mau diantar engganya".., dalam hati sih, "mending pergi sendiri ga ribet, hehehe". Berhubung kendaraan di rumah cuma itu satu satunya (untuk saat ini *motor*) jadi kita rebutan...hahahaha. Maklum suami tipe orang yang segala sesuatunya harus beres secepatnya..nah loh! Sedangkan ane bininya, masih aga aga lelet gimana gitu..


Saatnya berangkat kerja. Hari ini rencananya mau buka rekening tabungan dulu di Bank Mandiri. Sudah minta ijin sama bos. Plus mau bayar cicilan..Sst ga usah tahu, ya?!"
Begitu sampai tempat tujuan..'ajegile, ngantri!! banyak banget sampai keluar gedung segala, ckckckc.. gawat niy, bisa bisa ga kelar satu dua jam. Lirik sana lirik sini,ngeliatin orang orang yang pada berbaris ngantri "busyet deh, kaya mau dibagi sembako gratis" pikirku dalam hati. Tak lama seorang satpam menghampiri "ada yang bisa kami bantu, bu?" tanyanya. Suami narik tangan "mama liatin apaan sih?! itu cepetin cari kursi CS yang kosong. 'Ada yang bisa kami bantu, bu?!' pa satpam tadi ngulang ucapannya. Ya, saya mau buka rekening..!. Oh, silahkan ibu isi formulir ini *sambil nyodorin kertas*, kalau sudah selesai ibu tinggal ngambil no antrian..!, terima kasih, pak.." jawabku setengah ga ngerti. 

Kubaca formulir ditangan dengan teliti, sambil ngisi, sebentar sebentar berhenti karena tulisan yang tertera terlalu kecil jadi musti dibaca ulang. Lalu suami ngomel "cepet diisinya..! gitu aja ko lama?! Sini saya bantu.."  Tapi aku ga ngegubris ucapannya. "Udah saya juga bisa ko..! sambil tersenyum kecut *beuhg*.. Tak lama namaku dipanggil, ternyata no antrianku sudah diambilin sama pa satpam tadi..*baiknya..', terima kasih ya pa satpam*. Dan seorang perempuan cantik menyapaku dengan sangat ramah..dan bla bla bla, lalu ia menjelaskan secara detail tentang segala peraturan di Bank Mandiri. Beres semua, ok deh..ternyata ga lama ko" pikirku. Lalu iapun memintaku menandatangani syarat syarat dan ternyata membubuhi tandatangan saja butuh waktu yang lumayan lama. "Itu loh, setiap nulis tanda tangan musti diulang sampai delapan kali...ckckck katanya tanda tanganku tidak sama dengan yang diktp..waduuuh.. jadi sedikit kesel dibuatnya. Ko, bisa ya..?! hihihihihi. 

Padahal yang mendekati banyak *pikirku sih*. Yang kesembilan kali baru gol, sukses. Tarik nafas dulu deh, whuuuuush', "Silahkan ibu menuju teller paling ujung, nanti tinggal minta kode verifikasi pinnya" ucapnya. Kutoleh jam yang ada didinding bank itu, walah.. sudah jam sebelas! gimana ini?! sedikit kalang kabut. Mana bbku drop batrenya ga bisa konfirmasi sama bos. "Coba pap, pinjam hpnya? seruku ma suami. mau ngasih kabar ke bos. Ternyata eh ternyata suami malah ga bawa hape, ketinggalan di rumah.. hahaha. Lengkap sudah kekalutan. "Sabar.." kata suami mencoba menenangkan. Nyari tempat dudukpun susah, penuh semua. lama berdiri lalu ada sorang yang mungkin kasiah liat saya berdiri. "Silahkan duduk, bu..!. Oh, ya terima kasih.. 

Entah karena gundah liat jam tadi atau karena belum sarapan. Tanpa sadar aku tertidur dikursi. Untungnya ada suami ia dengan halusnya membangunkan. "mah..mah.. ko tidur? bangun, tar diliatin orang malu. hihihihi... aku gelagapan. Laper pap..! ucapku. Ya, tar kalo udah beres kita beli makanan. Ga lama tibalah saatnya segala keresahan itu terobati dan tak membutuhkan waktu lama. Akhirnya.. Horee aku sudah punya rekening baru...!! dalam hati. Siap siap nunggu transferan niy..

Sabtu, 31 Agustus 2013

Lebih Baik Ngopi Saja

Bete dan kesal hanya perasaan sementara yang kudapati sedari pagi. Mungkin ini sambungan sisa kekesalanku kemaren plus ditambah pula dengan segala celotehnya yang.." Aduhai..so sweet menyakitkan.."

Wajar dong marah!, dan memang aku ingin marah ko!" Sekalian mengeluarkan energi negatif yang menyerang pikiran dan hati.


"Sampai kapan..?!" sampai mereda rasa marah. "Awas lho, marah ga boleh dipendam nanti sakit hati. Ga baik buat kesehatan..!, kata para pakar kesehatan itu juga.. hehehe.

"Kan energi marah tuh emang baik disalurkan..*ngeles*, takut banyak penyakit nantinya. Tapi ko ya, belum apa apa udah kenalan lagi, barusan telpon nanyain dimana kartu atm?..huuuh.. kapan marah bersambungnnya?!. "Saya cuma pengen ngerasain marah selama 3 hari 3 malam saja, please!!".

Ya sudahlah, emang pada dasarnya kamu pengen dapet perhatian lebih. *hiks*.. padahal aku sudah berusaha merhatiin, tapi tuuh liat bocah kecilmu..?! Ia yang lagi banget musti diperhatiin..!'.

Aku tahu kamu, kamu tahu aku..!! just it. Aku yang slengean, kamu yang sabaran. Aku banyak diam, kamu banyak berucap. Karena diammu bukan emas melainkan tembaga, sangat kuat tapi pabila disulut lelehannya menyakitkan.

Kadang kecerian itu saya miliki tuk sekedar menyalurkan aspirasi dari rasa marah. Istilahnya 'penyelarasan hidup' cius..deh.

Tapi dipikir lebih dalam lagi hmmm, ternyata segala ucapannya terus terngiang tanda ada kebenaran dibalik kalimat yang dilontarkannya. Ego diri tak menerima karena memang iya salah. Manusiawi memang kalau tidak segera memperbaiki diri..."apyuuun dj."

*Eh* Ngomong apaan apaan siy, ga ngerti!... Tapi emang ini yang ada dihati saat ini. Lebih baik nyeduh kopi buat transper rasa malu.. hehehe..








Kamis, 29 Agustus 2013

Mirror Night


Sudah dua hari kudengar suara suara itu. Dan anehnya lagi setiap jam satu malam kejadiannya berulang. "Gubrak..Praaang"... bunyi benda yang berjatuhan, padahal rumah sebelah kiriku sudah lama tidak berpenghuni. Belum lagi atap rumah yang kebagian lemparannya. Semakin jelaslah segala keributan itu terdengar. 
Ada perasaan takut bercampur khawatir, bagaimana tidak. Setelah sekian lama rumah disebelah itu kosong, baru kali ini ada keributan. Sedangkan rumah sebelah kanan jarang sekali ditempati penghuninya, karena kerja shif malam. "Arrrrgg...Praaakk..!!, suara itu sekarang lebih hebat lagi terdengarnya. Kali ini ada emosi yang terpendam dihatiku. "kenapa sih harus berkelahi segala! Apa tidak ada jalan lain, selain bertengkar..?!" Mana mengganggu waktu istirahat, jam satu malam orang orang pada tidur pulas. Eh..tapi, kenapa pula para tetanggaku yang lain tidak terusik dengan suara suara itu "ah, mungkin ini hanya halusinasiku saja ." Aku mencoba meredam emosi yang sesaat lalu didera jengkel.

Mungkin karena faktor kebiasaan begadang yang kadang bisa menjadi penyebab seseorang berhalusinasi. "Gubraaak..."!! ada yang jatuh menimpa atap kamarku, kaget setengah mati. Kuberanikan diri keluar dari kamar. Muncul keinginan menjadi seorang hero, melerai yang sedang bertikai. Atau lapor Pa Rt, ya..?", sesaat ide itu terpikir akan dilakukan. Namun tidak tega, tengah malam begini bangunin orang. "Biarlah..!, aku coba saja. Siapa tahu bisa mendamaikan" bergegas aku keluar dari rumah. 

Hening dan bulu kudukku berdiri, setelah berada diluar rumah. Sekeliling rumah kuperhatikan, tidak nampak satupun orang lewat. Lalu mataku tertuju dirumah kosong itu. Banyak sekali barang yang tidak terpakai, ada papan, besi besi, juga peralatan lainnya. Rumah itu terlihat angker dan menyeramkan. Ketakutan itu muncul tiba tiba, ingin rasanya berlari secepat kilat, apa daya kaki ini seolah tertahan diikatan. Ternyata setelah kuperhatikan didepan rumah itu ada beberapa sosok mahkluk yang sedang berhadap hadapan. 

Mata mereka terlihat merah amarah sambil memasang kuda kuda hendak saling menyerang. Aku lari secepatnya kedalam rumah, kuambil air seember penuh plus gayungnya. "Byuuuuuurr...**&%% kusiram kearah mereka yang tengah berkelahi. Dengan napas terengah engah sekalian membuang kekesalan, "Dasar..!! Kucing sialan...!!" nih mandi sekalian biar tidak ribut lagi". Dan lambat laun suara itupun kini tak terdengar lagi. Hmmm.., aku mencoba tarik nafas. Lega rasanya, ternyata dua malam ini hanya pertikaian sesama kucing yang pengen kawin.., ckckckck... Kurebahkan tubuh diatas kasur melanjutkan sisa tidur yang terganggu tadi.

Rabu, 28 Agustus 2013

Secarik Kertas

Terlihat dari kejauhan. Sosok laki laki dengan perawakan sedang, menyangga tubuhnya ditiang listrik dekat perempatan jalan, yang memang hendak kulewati. Antara penasaran bercampur khawatir takut ada apa apanya. Aku berjalan perlahan, mencoba mengulur waktu. Dan saat jarakku dekat dengan sosoknya, ia sedang komat kamit dihadapan tiang listrik itu sambil memegang kertas, membaca. Aku jadi sedikit heran, ada keinginan untuk bertanya. Namun niat itu kuurungkan, jam ditanganku mengharuskan segera pergi ke kantor. Dan tak ada waktu untuk basa basi.


Besoknya lagi, kulihat sesosok laki laki tua itu tetap pada tempat seperti kemarin, hanya bergeser sedikit dari biasanya. Sambil memegang kertas. Lalu ia jongkok dengan menelungkupkan kedua tangannya, "hei, ia keliahatan sedang menangis!" Semakin aku dibuatnya penasaran. Langkahpun kupercepat karena rasa keingintahuanku. Dalam hati kupikir "mungkin ia sedang membutuhkan pertolongan!". Perlahan langkah ini kuhentikan persis didepannya. Kuselidiki dari kepala sampai ujung rambut, 'hhmm, orang ini perawakannya bersih, baju yang dikenakannyapun rapi. Terlebih sepatunya itu, "kinclong bener"..

 Lantas tak menunggu lama akupun memberanikan diri untuk bertanya, "ada yang bisa saya bantu, pak?!".. Ia seolah kaget dengan keberadaanku. Lalu berdiri.."Oh, ya..ya..", sambil mengusap air matanya. "Ini.., saya bingung dengan kertas ini. Dari seminggu yang lalu Bapak mencoba mengartikan tulisannya, tapi sampai saat ini belum paham juga..!" Ia menyodorkan kertas padaku. Namun "Haaaa..!! tulisan apaan? ga ada apa apanya, pak! ini cuma kertas kosong" Kaget, heran bercampur geli. Aku mengembalikannya lagi. Lalu perlahan kutanya, "Bapak ini dari mana, mau kemana?". Iya neng bapak juga lagi bingung, saya ini dari mana dan mau kemana..?!?! Dengan mimik muka yang aneh, menurutku. Lho' ko Bapak bingung!?' Aku yang bego atau Bapak ini yang lagi linglung "mungkin orang ini lagi terkena amnesia" pikirku. Ah, kasihan.

Tiba tiba ada sesosok laki laki lain mendekat. Denga pakaian serba putih. Waaduuh, disini rupanya Bapak! sambil memegang tubuh si Bapak dengan erat," maaf anda siapanya, ya? Laki laki ini malah bertanya, padahal seharusnya saya yang menanyakan itu. 'Ini..eh, anu,.. Saya ga sengaja lihat Bapak ini, seperti kebingungan. Jawabku tanpa menjelaskan lebih rinci kejadian sebenarnya. "Ohh, maaf, mba..?! Bapak ini sedang dalam masa perawatan karena jiwanya terganggu, sudah seminggu kami mencarinya. Beliau dulunya seorang pengusaha sandal jepit. Dan beliau ini buta huruf, laki laki ini menjelaskan secara garis besar tentang si Bapak ini...."&*%!@#$...aku malu plus jengkel setengah mati. Dan dengan perasaan ga karuan akupun berlalu tanpa permisi.

Senin, 26 Agustus 2013

MEMBANGUN MIMPI, MENGEJAR CITA-CITA

Cita cita sebenarnya sih aku sendiri kurang paham apa sesungguhnya yang patut dan sesuai dengan kemampuanku. Tapi ini telah kubuat beberapa daftar kumpulan hobiku semenjak kecil hingga sekarang.

Mengejar Mimpi

Waktu kecil (belum sekolah) pengennya jadi artis penyanyi jazz tapi yang sering kunyanyikan malah lagu dangdut Zakianya Ahmad Albar, hehehe. (Udah gitu kalau nyanyi cari kabel *kabel jemuran mama kupreteli* buat dijadiin mike*  karena terinspirasi. Kala itu kebetulan sedang ada pawai Dirgantara, dilihatnya asik banget orang pada terbang diawan (secara sekarang phobia ketinggian) *nyesel*

Waktu jaman SD pengennya jadi penulis komik. Karena seringnya baca buku cerita terutama komik komik 'smurf', BOBO, Timun Mas, tapi yang paling disuka Deni Si Manusia Ikan... Seru dan asik kalo udah baca. Dan semuanya itu hasil dari pinjaman ke temen, hihihihi *malu*. Juga pengen jadi pembalap sepeda tapi ga jadi dan ga mau jadi hobi. Begitu bisa maen sepeda udah nabrak mobil yang lagi parkir, ga tanggung aku terpental nyangkut diatas kap mobil itu dengan posisi terduduk... kalau inget kejadian ini jadi ngakak sendiri.

Jamannya remaja, tentu hobinya naik pengen jadi penulis cerpen-novel.Novel pertama yang aku baca waktu itu kalo ga salah, hmmm...apa ya? lupa! hihihihi. *ops sorry*. Tapi semua berawal dari hobi bacaku. Belum lagi kisah kasih cinta monyet, pede katean. Dan segudang sejarah tentang siapapun itu. Selalu ditulis dalam buku harianku.

Mengejar Cita-Cita

Memasuki usia dewasa justru aku mengagumi musik musik cadas, entah itu Metalica, Gun n Rose, Megadath, Slipknot pokonya yang metal abis dehh. Pergaulanku dikelilingi teman yang memang sesama hobi. Juga dengan para pecinta alam. Oh, ya aku pernah punya kenangan manis dengan hobiku yang satu ini, pertama serius dengan cowo pacarannya diatas Gunung, Jayagiri Lembang. Waktu itu momennya bertepatan 17 Agustus dengan dicanangkannya menghiasi rumah rumah dengan lampu kecil kelap kelip, ingat dong masaa itu..? hehehe.. Ternyata usia ini semakin nambah ya..Tahun berapa saya juga lupa. Indahnya pacaran diatas gunung walau ga bisa berdua duaan (banyak orang bho!)..hehehehe.

Kadang emang suka ga sadar diri kalau umur ini semakin hari semakin menyusut, diri merasa muda terus. Belum lagi bahasa anak anak sekarang juga suka diikutin, rada alay alay gimana, gictuh.." Btw semua akhirnya sampai pada pemahaman, arah mana yang hendak menjadi tujuanku sebenarnya. Dan ternyata setelah melalui beberapa pengalaman hanya satu yang melekat dengan jiwa "Menulis", ya memang kini kegiatanku sekarang. Meskipun masih dalam taraf pembelajaran. Tapi yakin seyakin yakinnya, menulis itu akan memberikan penghidupan yang layak dan pola pikir menjadi lebih smart.

Jumat, 23 Agustus 2013

Terhapus

Sedari malam yang berawal dari sore

Sadar diri setelah mencari keberadaannya


Kutelusuri kejadiannya, namun tak kutemui alasannya

'Padahal aku memuji...

'Padahal aku meneliti...

Namun sengaja kau hilangkan jati diri, mengapa?

Aku rindu kalimat sontak itu, kerap kau tuang dalam postingan

Aku baca semua kisahmu, karena kau menginspirasiku

Bukan dengan ucap kita bersua, namun seluruh kalimat itu jadi tak genap

Dan bukan dengan asmara kuberkata hati

Hanya keelokan kalimat yang membuatku terus mencari

Mengapa kau membalikkan diri diantara ketiadaan itu?...

Tapi diakhir kusadar apalah arti seorang "yuli".... Aku.

Jumat, 26 Juli 2013

Sendirian Tadi

Bola tadi tergelincir diantara jalanan yang kulalui

Menatap waktu dengan sinis namun kuterima


Seolah landaian yang kulalui terbentuk diingatan

Teriknya cahaya pagi tadi merambah keakuanku

Melintang diantara rasa tertinggal, menyudahi kala tertiup ucap

Hinggap kalimat ini karena telah diberitakan, bahwa ada keceriaan

Bergema di setiap lapisan kelompok yang berseru ceria semu

Dinding yang kutekuni tak berani menolak keinginan

Ia seakan maklum adanya diriku

Namun hati kecil tetap berkata "tak bertanggung jawab"

Hanya sebentar ko, purnama tadi malampun telah memberi sinyal

Lambat melirik beradupun seakan menyelidik, aku paham

Ijinkan ya?

Hanya sesaat makna ini tertuang tuk merebahkan adanya aku

Hai dunia batin.. Celahmu telah kurobek sedikit, tak apa kan?

Lanjut menyingsingkan kalimat yang telah disepakati

Akupun bergegas pergi kesebelah dan merampungkan nada

Nyanyian ini kutiup untukmu yang berceloteh ria

Aku ikut karena aku tahu