Haaaaaa!! Teriakku sepenuh jiwa.
Tak,apa kan? Kejayaan macam apa perilakumu itu
Tak,apa kan? Kejayaan macam apa perilakumu itu
Aku setengah mati mendongkakkan rasa yang membara ibarat gemuruh yang tengah bergumul dihempasan angin nan dahsyat
Aku kadang mencaci diri sekedar mencari arti.
Atau memelas raga walaupun sering kau hempaskan.
Kemanakan naluri yang dulu begitu tertantang dan terbentang, menggelayut disetiap sibakkan harum rambutku.
Merana kau hilangkan nalurimu, merona meskipun hanya tatapan kilat yang sendu dan ragu
Sebegitu benci-kah dirimu pada keadaan?
Kau tak mau memihak adanya diriku.
Tertelan sendiri dengan santai dan membara penuh ketidakjelasan.
Kau tak mau memihak adanya diriku.
Tertelan sendiri dengan santai dan membara penuh ketidakjelasan.
Padahal aku harapkan jelaga itu tumpah ruah,
seperti halnya gulungan ombak yang bergairah.
seperti halnya gulungan ombak yang bergairah.
Terlintas berharap menyudahi, namun romanmu tak sanggup kupenuhi.
Pesonamu begitu menyayat hati seakan sengaja kau kalungkan supaya ku tak pergi.
Sungguh egois yang mendayu dan menyatu.
Karena ternyata akupun setuju, celaka memang.
Tapi itulah yang hendak kutuju dan kutiru.
Pesonamu begitu menyayat hati seakan sengaja kau kalungkan supaya ku tak pergi.
Sungguh egois yang mendayu dan menyatu.
Karena ternyata akupun setuju, celaka memang.
Tapi itulah yang hendak kutuju dan kutiru.
