Disleksia, Apa sih Itu? Sebenarnya ini sih bukan suatu hal yang luar biasa, Disleksia. Ya, aku ternyata mengidap kelainan ini. Pada awalnya sih ga ngeh dengan nama penyakit ini. Aku merasa baik-baik saja ko', insya Allah jiwa ragaku sehat juga. Mungkin karena kini aku berkecimpung di dunia penulisan, jadi hal seperti ini baru diketahui. Mungkin juga setelan santer di media tentang orang orang yang mengidap kelainan ini.
Secara lebih khusus, saya biasanya mengalami masalah masalah berikut:
* Masalah fonologi
Yang dimaksud masalah fonologi adalah hubungan sistematik antara huruf dan bunyi. Misalnya mengalami kesulitan membedakan ”paku” dengan ”palu”; atau keliru memahami kata kata yang mempunyai bunyi hampir sama, misalnya ”lima puluh” dengan ”lima lupuh”. Kesulitan ini tidak disebabkan masalah pendengaran namun berkaitan dengan proses pengolahan input di dalam otak.
* Masalah mengingat perkataan
Menurut penelitian disleksia mempunyai level intelegensi normal atau di atas normal namun mereka mempunyai kesulitan mengingat perkataan. Sulit menyebutkan nama teman-teman dan memilih untuk memanggilnya dengan istilah “temanku di sekolah” atau “temanku yang laki-laki itu”. Mampu menjelaskan suatu cerita namun tidak dapat mengingat jawaban untuk pertanyaan yang sederhana.
* Masalah penyusunan yang sistematis / sekuensial
Saya mengalami kesulitan menyusun sesuatu secara berurutan misalnya susunan bulan dalam setahun, hari dalam seminggu atau susunan huruf dan angka. Saya sering ”lupa” susunan aktivitas yang sudah direncanakan sebelumnya, misalnya (dulu) lupa apakah setelah pulang sekolah langsung pulang ke rumah atau langsung pergi ke tempat latihan. Padahal orang tua sudah mengingatkannya bahkan mungkin sudah pula ditulis dalam agenda kegiatannya. Juga mengalami kesulitan yang berhubungan dengan perkiraan terhadap waktu. Dulu saya mengalami kesulitan memahami instruksi seperti ini: ”Waktu yang disediakan untuk ulangan adalah 45 menit. Sekarang jam 8 pagi. Maka 15 menit sebelum waktu berakhir, Ibu Guru akan mengetuk meja satu kali”. Kadang kala ”bingung” dengan perhitungan uang yang sederhana, misalnya tidak yakin apakah uangnya cukup untuk membeli sepotong kue atau tidak.
* Masalah ingatan jangka pendek
Saya waktu kecil mengalami kesulitan memahami instruksi yang panjang dalam satu waktu yang pendek. Misalnya ibu menyuruh anak untuk “Simpan tas di kamarmu di lantai atas, ganti pakaian, cuci kaki dan tangan, lalu turun ke bawah lagi untuk makan siang bersama ibu, tapi jangan lupa bawa serta buku PR matematikanya ya”, maka kemungkinan besar saya tidak melakukan seluruh instruksi tersebut dengan sempurna karena tidak mampu mengingat seluruh perkataan beliau.
* Masalah pemahaman sintaks
Saya juga sering mengalami kebingungan dalam memahami tata bahasa, terutama jika dalam waktu yang bersamaan menggunakan dua atau lebih bahasa yang mempunyai tata bahasa yang berbeda. Saya mengalami masalah dengan bahasa keduanya apabila pengaturan tata bahasanya berbeda daripada bahasa pertama. Misalnya dalam bahasa Indonesia dikenal susunan Diterangkan–Menerangkan (contoh: baju merah), namun dalam bahasa Inggris dikenal susunan Menerangkan-Diterangkan .
Dan inilah hal yang seringkali saya alami:
-Kesulitan mengenali huruf atau mengejanya
-Kesulitan membuat pekerjaan tertulis secara terstruktur misalnya essay
-Huruf tertukar tukar, misal ’b’ tertukar ’d’, ’p’ tertukar ’q’, ’m’ tertukar ’w’, ’s’ tertukar ’z’
-Membaca lambat lambat dan terputus putus dan tidak tepat misalnya
-Menghilangkan atau salah baca kata penghubung (“di”, “ke”, “pada”).
-Mengabaikan kata awalan pada waktu membaca (”menulis” dibaca sebagai ”tulis”)
-Tdak dapat membaca ataupun membunyikan perkataan yang tidak pernah dijumpai
-Tertukar tukar kata (misalnya: dia-ada, sama-masa, lagu-gula, batu-buta, tanam-taman, dapat-padat, mana-nama, minat-minta)
-Daya ingat jangka pendek yang buruk
-Kesulitan memahami kalimat yang dibaca ataupun yang didengar
-Tulisan tangan yang buruk *Ssst, jangan bilang sama yang lain,ya?* hehe..
-Mengalami kesulitan mempelajari tulisan sambung
-Ketika mendengarkan sesuatu, rentang perhatiannya pendek
-Kesulitan dalam mengingat kata-kata
-Kesulitan dalam diskriminasi visual
-Kesulitan dalam persepsi spatial
-Kesulitan mengingat nama-nama
-Kesulitan memahami konsep waktu
-Kesulitan membedakan huruf vokal dengan konsonan
-Kebingungan atas konsep alfabet dan simbol
-Kesulitan mengingat rutinitas aktivitas sehari hari
-Kesulitan membedakan kanan kiri dan ini masih berlaku sampai sekarang (oh emji* ga banget deh)
Sembuh?
”Ketidak mampuan” di masa kecil yang nampak seperti ”menghilang” atau ”berkurang” di masa dewasa bukanlah karena disleksia nya telah sembuh namun karena saya berhasil menemukan solusi untuk mengatasi kesulitan yang diakibatkan oleh disleksianya, walau terkadang sekarangpun masih sesekali melakukan kesalahan.
"Yaitu baca buku dari bagian belakangnya dulu. Jarang membaca dari awal. Ini salah satu solusi yang yang saya pakai. Dan sekarang, saya mampu baca novel tebal atau biografi, cuma butuh semalam dan tuntas.