Kamis, 07 November 2013

LOBI BAR ITU ADA DI MEKKAH

Hidup dengan segala permasalahan, membuat-nya  menjadi seorang pribadi yang tegar dan pantang menyerah 

Berawal dari mimpinya sahabatku LOBI BAR ITU ADA DI MEKKAH Kisah nyata ini sengaja kutulis atas seijin dari yang mengalaminya. Sebut saja namanya Mia, ia adalah sahabatku yang pernah satu kos-an kala kami masih remaja. Seringnya kami bersama dalam suka duka, membuat ku sangat mengenal segala kepribadian baik luar maupun dalamnya. Mia, seorang gadis yang kehidupannya pas-pasan mengarungi jalan hidup dengan berbaur diatara teman-teman yang jauh diatas level tingkatannya. Ia sengaja menjerumuskan diri dalam dunia malam. Bukan keinginannya sebenarnya ia berbuat demikian, itu ia lakukan sekedar bertahan hidup dari carut-marut keluarganya. Mia pula yang menjadi tulang punggung keluarga.

Bekerja Paruh Waktu

Mia memang menyukai tantangan terlebih lagi saat menjalani pekerjaannya. Apa saja ia kerjakan selama itu menghasilkan materi. Tapi bukan berarti Mia seorang yang matrelialistis, ia melakukan semua itu demi mencukupi kebutuhan orang-tua dan adik-adiknya, terutama biaya sekolah. Bekerja disebuah Salon dan kebetulan aku yang menjadi mentornya sebagai asisten staylist. Mia tidak memiliki ijasah formal dalam bidang ini, tapi aku melihat kesungguhan dalam mendalami pekerjaannya. Cepat tanggap dan mudah mengerti apa yang ku ajarkan membuat Mia selalu bisa ku andalkan. Dan salutnya lagi ia ternyata nyambi bekerja di sebuah Restoran malam. Jam delapan pagi jadwal masuk kerja di Salon sampai jam enam sore, setelahnya dari jam setengah tujuh malam sampai jam satu malam, Mia bekerja paruh waktu. Tak pernah kulihat ia merasa kecapian atau lelah menjalani dua pekerjaan yang pastinya menguras energi. Selalu riang dan menyenangkan. disinilah awal mimpi LOBI BAR ITU ADA DI MEKKAH.

LOBI BAR ITU ADA DI MEKKAH
gambar pribadi

Namun lama kelamaan kulihat Mia makin hari makin menyusut bobot tubuhnya. Kurus kering dan sering ku lihat raut wajah yang kusam dan mata memerah seperti habis minum minuman keras. Tercium bau alkohol dari mulutnya. Setelah memasuki minggu ke empat dipekerjaan barunya, ternyata membuat Mia luluh dan menyerah di Salon. Ia mengundurkan diri. Tapi aku mengerti, bisa dibayangkan bekerja didunia malam walaupun itu sebuah restoran tetap saja akan ada efek dalam pergaulannya. Belum lagi teman-teman barunya, selalu mengajak kesana-sini. Entahlah apa yang diperbuat selanjutnya. Namun kami tetap berhubungan dengan baik. Mia selalau mencurahkan segala kegalauan dan masalah yang menimpanya. Dan aku selalu menjadi pendengar yang baik.

Tubuh Itu Akhirnya Ambruk

Mia tetap menjadi teman kosku yang baik. Tiap menjelang keberangkatan menuju tempat kerja, ia selalu berpamitan padaku, serasa aku ini Kakaknya. Sibuk dengan dunia malam membuat Mia sedikit melupakan kesehatan. Pernah sekali waktu aku diajak ketempat kerjanya. Memang sebuah restoran tapi, alamak! dilantai atas restoran itu ternyata ada pub-nya juga. Kata Mia kadang ia paruh waktu juga disana dengan imbalan sepuluh ribu rupiah perjam-nya (waktu itu tahun 1995) ya, dengan materi sebegitu membuatnya selalu semangat. Karena kutahu Mia tidak pernah mengeluh soal bayaran, berapapun ia terima asal bisa menyambung hidup. Miris sekaligus sedih melihatnya. Pergi malam pulang pagi itulah Mia sekarang. Sedikit demi sedikit penghasilannya mulai terlihat dari beberapa barang yang dimilikinya. Ia sekarang mampu membeli apapun yang dikehendaki, termasuk lancarnya kiriman uang buat keluarganya. Ada perasaan lega melihat keberhasilannya. Namun aku selalu mewanti-wantinya agar menjaga diri dengan baik, "pekerjaan apapun selama dilakukan dengan niat baik, Insya Allah Tuhan itu maha mengerti ko" itu yang selalu ku katakan pada Mia.

Aku tak pernah mengorek lebih jauh apa yang dilakukan setelah pulang dari pekerjaannya. Karena ku tahu jam kepulangannya jam satu malam selebihnya? who know? Itu bukan urusanku. Seringnya melihat Mia pulang dalam keadaan mabuk berat membuatku kadang bertanya 'apa sesungguhnya yang dicarinya?'. Suatu hari Mia menangis dihadapanku, ia mengatakan bahwa hidupnya serasa hampa, letih, lelah dengan semua yang dijalaninya. Desakan ekonomi dari keluarganya dan perubahan hidup yang diinginkannya. Menjadikan Mia saat ini pribadi labil dan kosong. Hidup tanpa keluarga yang diharapkannya dengan segala kebersamaan dan petuah pepatah dari orang tua, membuat Mia mencari jalan sendiri, apa itu hidup dan untuk apa ia hidup dengan segala keterbatasan yang ada membuat Mia menjadi seorang yang berjiwa besar, Ia tak pernah malu mengungkapkan jati dirinya, siapa dan dari mana jika ada teman yang bertanya silsilah keluarga.

Tiba pada suatu hari kulihat Mia sempoyongan, tubuhnya terkulai lemas dan tiba-tiba ambruk dihadapanku. "Mba aku kayaknya sakit! itulah kata-kata terakhir yang diucapkannya padaku, 'kenapa? karena setelahnya Aku diharuskan berpindah tugas mengurus cabang Salon di lain tempat dan jarak yang lumayan jauh. Karena kesibukannku mengurus pekerjaan, tak lagi kudengar tentang Mia. Aku tenggelam dalam duniaku sendiri. "Ah.. Mia, maafkan aku kala itu tak bisa menjadi tempat sandaranmu lagi" Tapi aku mendengar kisahmu dari teman kita, bahwa kau sewaktu dalam keadaan sakit, tanpa didampingi seoranpun, sakitmu mungkin bertubi tubi. Kau berjuang melawannya sendirian. Yang ku dengar dari temanku ternyata Mia sakit typus, tiga minggu lamanya Mia berbaring lemah tak berdaya, hanya tetesan air mata tanda kekuatan. Untungnya ternyata saat itu Mia menemukan seorang tambatan hati yang dengan suka rela merawat dan menyayanginya. Lobi bar itu ada di Mekkah Ia seorang lelaki yang mempunyai kehidupan tak lebih dari kehidupan yang Mia miliki. Hanya perbedaanya lelaki itu berasal dari keluarga mampu.

Pertemuanku dan Mimpinya Mia

Sebulan dua bulan terlewati, aku ternyata merindukan Mia. Memasuki bulan ketiga sengaja pada hari libur kerja ku, ku luangkan waktu untuk menengok keadaan Mia. Pada pertemuan itu membuat kami saling berangkulan dan seolah pelukan Mia tak mau terlepas. Ada air mata kebahagian bercampur keharuan membuat Mia dengan semangat menceritakan segala kisah yang ku lewati. Lantas Mia menceritakan mimpinya padaku "mba, seminggu yang lalu mimpi LOBI BAR ITU ADA DI MEKKAH, tapi kenapa ya, dimimpiku itu aku berdiri di lobi bartender yang berada di Mekkah, sangat tak masuk akal!" ucap Mia. Aku sedikit terkejut dan tertegun sejenak, ada relung dalam batinku yang berucap "seandainya Mia tahu apa arti mimpinya?" Dengan menghela nafas kukatakan pada Mia dengan hati-hati. "Mia, sesungguhnya Allah memberimu hidayah agar kamu cepat berlalu dan meninggalkan kehidupan yang saat ini dijalani. Allah terlalu menyayangimu, Ia tidak ingin kau terus terjerumus dalam lembah dosa yang tak berkesudahan" Tanpa bermaksud mengguruinya kukatakan semua menurut logika semata. 
Lalu ku tanya Mia "kamu masih dengan pekerjaanmu sekarang?" Mia hanya mengangguk pelan dan kulihat ada tetesan air mata dipipinya.

LOBI BAR ITU ADA DI MEKKAH
www.ahlusunah.org
Seolah ada kesadaran tiba-tiba di pikiran Mia. Ia merangkulku dengan erat dan menangis sesengukan. Aku pun tak kuasa ikut larut dalam tangisannya. Lalu Mia berkata "Ia mba, kenapa juga ya dengan diri ku, aku kan orang miskin tak semestinya aku lebih memiskinkan diriku dengan pekerjaan ini, aku terlalu menikmati pekerjaanku tanpa melihat arah masa depan yang sesuai keinginan dan cita-cita ku. Terlena dengan hiruk pikuk dunia malam, clubing sana sini. Tak pantas aku berbuat demikian" Ku usap air mata Mia dan kukatakan "Sesal kini itu lebih baik Mia! Kamu tidak usah cemas, yang sudah terjadi terjadilah, saatnya buatmu meninggalkan semua itu hari ini, detik ini. ''Masih banyak pekerjaan lain yang halal menunggumu" Setelah pertemuan itu ada sedikit rasa resah mengingat mimpi Mia tentang LOBI BAR ITU ADA DI MEKKAH "Ya Allah begitu maha mulianya Engkau, Kau sisipkan mimpi kebaikan-Mu pada sahabatku. Aku memohon pada-Mu "Angkat derajat Mia, bimbing ia kembali ke jalan-Mu dan berikan ia kemudahan dalam mencari rezekinya, amiin ya rabb"

Mia Kini

Kini kehidupan Mia jauh lebih baik. Ia telah membina rumah tangga dengan lelaki yang telah menolongnya kala itu. Memiliki dua putra dan putri. Dan yang lebih hebatnya lagi, kini ternyata Mia mempunyai usaha sendiri yaitu Salon khusus muslimah dan Salonnya ini kian hari kian berkembang pesat. Mia sekarang bukan lagi Mia yang dulu selalu berasyik mashuk didunia malam. Kehidupan Mia malah melampaui keberhasilan ku, aku sadar dan tahu betul seperti apa tekad Mia, sedari dulu hingga kini. Keberhasilannya buah dari rasa lelah, keringat dan tak hentinya Mia mencari cara untuk berhasil berkat mimpi Lobi bar itu ada di Mekkah.




Rabu, 06 November 2013

Cerita ABG Yang Menggairahkan

Cerita ABG Yang Menggairahkan
Anak ABGku

Pada suatu waktu dalam perjalanku menuju rumah sepulang kerja dari kantor. Kulihat ada sepasang remaja yang asik masyuk di taman yang sering ku lalui. Pada awalnya aku tak mau mengubrisnya. 

Tapi setelah seminggu berlalu, kedua remaja itu selalu saja saling berinteraksi di taman. Ada sedikit gerah campur geram. Anak segede gitu ko berani beraninya disore hari asik-asikan berdua di taman. 

Mana seragam SMP-nya belum diganti pula.. fuihhhh, bikin greget aja tingkah lakunya. Inginnya saya Cerita ABG Yang Menggairahkan ini dan bertemu kedua orang tua anak tersebut dan kukatakan bahwa anaknya selalu berdua di taman setiap sore. 

Tapi apa daya semua hanya keinginan saja. Yaiyalah mana saya kenal kedua orang tuanya, si anak itupun tak ku kenal pula dari mana dan anak siapa.

Tepat di hari selasa, dimulailah Cerita ABG Yang Menggairahkan ini, sengaja minta ijin bos untuk pulang setengah jam lebih cepat dari biasanya. Tiba di taman itu dengan modus pura-pura ingin memperbaiki ban motor barangkali kempes. 

Kedua anak tersebut kelihatannya tidak memperhatikan keadaan sekitar dan tidak menyadari kalau saya berada dekat dengan mereka. Mereka cekikikan tertawa dan saling mengusap rambut. 

Deg-degan sih, dalam hati berpikir “tindakan apa yang harus kubuat tanpa menyinggung mereka?”  Samar kudengar mereka berteriak dan saling mengaduh, kadang keduanya gantian saling berdiri kadang pula tarik menarik baju seolah sengaja beradegan mesra. 

Lalu tiba-tiba salah seorang menjerit dan berlari mendekatiku. Nah! Siap siap kupergoki kelakuan mereka.

“Eh kamu sih gara-garanya! Coba kalau tadi kamu yang pertama nyobain, sakit tau! “lah, kan kamu sendiri yang duluan pengen ngerasain” jawab temannya. Haduuuh ni kuping panas bener mendengar kalimat-kalimat yang mereka lontarkan.

 “Wah! Ada apa nih ko seru banget ya?” tanyaku, pura-pura sok akrab. Kedua anak ABG tersebut lalu duduk disamping kananku sambil memegang hanphone. “kalian memangnya tidak sekolah, jam segini masih disini? Dan kelihatnnya kalian sering berada ditaman ini? ini kebetulan lho ibu sering lewat sini?! Tanyaku. 

Lalu berbarengan mereka menjawab “wah ibu mata-matai kita yaa?!” sambil tertawa mereka mengatkannya.  “Engga bu, ini kita lagi ngadain percobaan,  cara merawat anak kucing. Habis kalau anak kucingnya dibawa kerumah, mama alergi sama binatang. Jadinya ya.. disimpan dibawah pohon ditaman ini biar mama ga tahu. Cerita ABG Yang Menggairahkan tadi coba menjelaskan.


“Itu tadi kita lagi nyobain guntingin kukunya, ceritanya mau dimeni-pedi gitu, eh.. malah aku yang kena cakarannya”. Sambil memperlihatkan bekas cakaran yang memang merah memanjang. “Kita sedikit geli merawat anak kucing ini, umurnya baru dua minggu. 

Tiap hari kita ngerawatnya gantian, ya seru-seru gimana gitu hahahaha..” dan rencananya hari ini selain mau dimeni-pedi mau dicreambat juga biar wangi dan cantik bulunya. 

Lalu mereka berdua bergegas kembali ketempat dimana si kucing disimpan, lalu dibawanya menghadapku, sedikit malu dan ada rasa bangga, "oh, ternyata ini hasilnya..aih lucunya!! seruku. 

Dan mereka tampak senang dengan pujian yang ku berikan (dalam hati 'tidakkk, aku juga ga suka kucing') Dan ternyata lagi rumah mereka berhadapan depan taman itu. oalah...Dasaaar Cerita ABG Yang Menggairahkan!!

Cerita ABG Yang Menggairahkan
Piaraan Para ABG
                             
                                 "Artikel ini turut mendukung gerakan PKK Warung Blogger"

Senin, 04 November 2013

Cerita ABG Yang Geje

Para mantan ABG 

Banyak kalimat-kalimat yang menyertakan kata ABG di kata kuci pencarian google mengeluarkan kalimat ‘nakal’ dan menjijikan. Belum lagi dengan segala adegan yang amat sangat tidak pantas. Seolah anak ABG jaman sekarang dipaksa untuk menjadi budak nafsu, kenapa?

Ya, bisa dilihat begitu mudah-nya media menyajikan konten-konten yang tak senonoh
(Sen: uang, On: Siap pakai, Oh:tidak ada penolakan) itulah ciri gambaran tingkah laku anak 
ABG saat ini, alias gampangan, gampang diajak, gampang dipengaruhi dan gampang terjerumus, dan Cerita ABG Yang Geje inilah istilah versi saya mengartikan kata ABG dan kalimat penyertanya :

ABG : anak baru gede (arti sebenarnya dan bermakna positif)
*ABG yang bisa dikatakan labil dalam perkembangannya, selalu mencari jati diri, ingin lebih eksis dari temannya. Dalam hal ini peran orang tua sangat dibutuhkan

ABG : anak bisa gede
*Ya, memang yang namanya anak bisa gede, yaitu yang doyan makan, doyan melahap segala makanan, bisa dipastikan mendapatkan pertumbuhan yang, liat aja meskipun harus antri. Demi makanan kesukaan, mereka rela berkorban (korban waktu)
ABG : Aku Butuh Gatget
*Hare gini ga punya gatjet hadeuh mending tepok jidat deh. Yaa, minimal hape cina juga ga apa-apa deh. (kata Om Ari Subono, katanya)

ABG : Aku Bukan Gadis
*Pengennya sih dianggap begitu terus, apa daya kenyataan menuntutku untuk selalu jujur pada diri sendiri, bahwa saya sesungguhnya sudah punya suami dan tiga anak. (nasib memang) Cerita ABG Yang Geje
ABG : Ah Biarin Gini
*Emangnya siapa juga yang nyuruh begitu, terserah loe deh. Mau begini mau begitu sama saja. Pada pengen eksis gituu..!
ABG : Aku Blogger Gituuh?
*Nah, itu nanyanya sama siapa? Mendingan sobat sobit di dunia blogger yang menilai. Apa pantas saya jad seorang blogger. Soalnya yang motoin ni mobil yang punya mobilnya. Mudah-mudahan saya hihihi..(tetap ngayal lagi)

Yups, asiknya kala temen yang seumur ikut nimbrung soal perkembangan dunia maya. Ada yang sukanya update status ngalay abis biar dikatain ABG tua gaul, atau update statusnya yang galau..galau gimana gitu, biar dikira ABG tua eksis.

Ataupun foto profilnya diganti dengan foto –nya semasa sekolah, alias ga diganti-ganti (atau juga karena ga punya foto lain lagi). Tuuh, liat lapi-nya aja segede gitu, satu-satunya didunia..(hadeuuh)




                          "Artikel ini turut mendukung gerakan PKK Warung Blogger"  























Minggu, 03 November 2013

Aku Melihat Dua Lelaki

siluet google

Ucapmu pada malam lalu menggoreskan setitik celah
Kalimatmu yang beradu menitikan kejelasan
Layar terkembang hanya bayangan semata
Dua wajah menelisik resah dan kian gundah

Aku, Dia dan Kamu
Bersandung diantara perasaan yang membiru
Genangan kerinduan membasuh asmaraku
Pada saat lemah ragaku menjadi kelu
Hadir diantaramu kian semu

Buih angin malam menemaniku mengingat paras
Tertunduk dan syahdu meraba hati yang kian sendu
Saat dimana kurajut sebait kata dan langkah ucap
Ku sengaja sisipkan kedua cincin yang menjerat
Padahal itu pasti kan membawaku kian berat

Jalanan yang tadi kulalui terasa berombak
Lemah tak berdaya dihempasan gairah pikir
Aku menyiangi kalimatku sendiri
Antara janji dan menepati
Tapi tak urung ku mengerti

Ahh, angin malam ini begitutak bersahabat
Hanya buaian perasaan yang kuduga
Padahal semestinya dulu ku tak mencela
Inilah akibatnya jika ku berencana
Namun diakhir ternayata menjadi bencana

Ya, aku rindu kalian berdua
Dimana hati ini terpautkan raga
Antara nista dan dusta
Dilema tak berkesudahan


Hanya mampu bertatap bayangan

Senja kala itu masih merengkuh
Masih terbungkus dengan kokoh
Sengaja ingatan ini kubuat
Biar kalian tahu
Aku sedikit tersesat

 



Sabtu, 02 November 2013

Dimana Kau Sahabatku?

Bingung mau ngomong apaan, pikiranku entah kenapa tiba-tiba mandek. Disatu sisi memikirkan pekerjaan yang belum maksimal kulakukan, disisi lain teringat sahabatku yang entah kenapa dicari-cari jati dirinya seolah lenyap tak bersisa. Padahal aku rindu banget, pengen ketemu. Teringat kala menjalani masa-masa sekolah SMP-ku, dimana kami selalu berdua kemana-pun entah itu jajan dikantin, hangout ataupun ngerumpi diserambi sekolah.

Namanya Priscila Avas Loekita Soedira, panggilan sehari-hari Oki kelahiran Ciomas-Bogor. Dulu ia semasa sekolah tinggal di Bandung karena pengalihan tugas Ayahnya yang berdinas di Departemen Keuangan. Anaknya manis banget, kulitnya tidak putih tapi banyak cowok yang naksir bahkan sampai ada yang sengaja meminta restu orang tua Oki tuk dijadikan tunangannya, walah padahal masih bau kencur sudah banyak yang meminang. Walaupun anak-nya agak sedikit centil dan genit, tapi kepribadian sebenarnya sungguh menyenangkan, menurutku yang memang dekat dengannya. 

Oki yang sedikit mempunyai darah Belanda Arab dan Betawi, membuatnya berbeda diantara kami. Postur tubunya-pun tidak tinggi. Tapi tetap yang aku herankan, ko banyak cowok yang naksir berat ya? Beda denganku yang kala itu emang tak pernah mengubris lirikan cowok, kalaupun ada yang berniat jahil, siap-siap kena bogeman hihihi sedikit preman memang. Suka duka kami jalani, ibaratnya tidak ada Oki ga akan ada Yuli, malah ada teman bilang kalau kami *opst maaf* lesbi. Kata-kata lesbi waktu itu tidak aku mengerti apa artinya, jadi tak pernah kurespon setiap gosipan teman di sekolah. 

Awal persahabatanku dengan Oki, dia baru masuk sekolah SMP pas semester dua. Kuingat begitu ia memasuki ruangan kelas, teman-teman cowokku pada sumringah, ada yang pukul-pukul meja, ada yang sengaja ngeloyor langsung kedepan minta kenalan langsung sama Guru, ckckck.. ada-ada saja tingkah teman -teman cowok waktu itu. Ya, bagaimana tidak, secara dari pakaian seragam saja sudah bisa dilihat, baju atasan putih rapi tapi seragam bawah-nya yang "wow" diatas lutut dibawah paha. Bikin ga ngedip mata. Karena peraturan di Sekolah kami tidak diperbolehkan seragam bawahan diatas lutut. Jadinya, yaa.. langsung kena teguran gitu dari wali kelas yang mendampinginya kala itu. 

Waktu berlalu dan tahunpun berganti, tiba saatnya kami memasuki perpisahan Sekolah, aku mendaftar ke SPK (sekolah keperawatan) dan Oki? ternyata ia kembali ke Bogor sebab sang Ayah telah dipindahkan lagi bertugas di Bogor. Aku yang larut dengan segala tetek bengek persiapan mos sekolah sedikit melupakan akan sahabatku Oki ini. *Yang aku sesalkan sampai saat ini, foto-foto kami dan bahkan alamat rumah-nya yang di Bogor tak kuketahui keberadaannya, hilang*

Pernah sewaktu akan melangsungkan pernikahan tahun 96, aku sengaja mencari alamat terakhirnya yang di Bandung, yaitu daerah Muararajeun lama (berharap ada teman bloger yang bertempat tinggal di daerah itu) tuk mengajaknya menghadiri pernikahanku. Tapi apa dinyana, rumahnya yang memang ngotrak waktu itu, telah ditempati orang lain dan alamat yang di Bogor-pun tampaknya Pak RT tidak mengetahuinya juga, sedih memang. Dan data terakhir yang kudengar ia menjadi seorang penyanyi.
Ya sudahlah mungkin dilain waktu entah dimanapun ia berada, aku akan ada pertemuan itu.

Namun yang tidak habis pikir, setiap ingatanku padanya terlebih seringnya kubermimpi tentangnya, gambaran Oki seakan tidak jelas, hanya menggapaikan tangan tapi tidak bisa kusentuh. Kadang kulihat dimimpi itu, hanya hamparan padang yang luas dan Oki hanya sendirian, sambil menitikkan air matanya. Oh.. Oki, aku harap dirimu baik-baik saja. 

Teruntuk Sahabatku Oki, aku telah lama mencarimu berikan tanda tanda keberadaanmu, walaupun hanya sekilas, insya Allah aku akan menemuimu sebagai apapun dirimu nantinya.

Salam sayang dari sahabatmu Yuli

Jumat, 01 November 2013

Aku, Kini, Dan Nanti

Awalnya ada sedikit keraguan mengungkapkan jati diri yang sebenarnya. Karena "menurutku" tak penting pula orang tahu siapa aku sebenarnya. Tapi menelisik blog teman yang mengungkapkan sisi profil-nya di blog, bikin aku kepincut juga. Bukan bermaksud narsis, hanya sebagai data, siapa tahu ada manfaatnya kelak. 

Nama asliku Yuli Yulia (ciri khas orang sunda kosa kata diulang), entah apa maksudnya kedua orang tuaku memberi nama ini, yang jelas pasti terselip sebuah doa didalamnya. lahir di kota kembang Bandung pada 17 Juli 1975 (masih muda banget yaa? weew ahh!) hehehe. Tapi serius ko, aku merasa muda terus *ciee*, kami berdelapan saudara tapi ada dua kakakku yang sudah almarhum. Jadi kini tinggal enam, aku kedua paling besar. 

Dilahirkan dari seorang Ibu yang kuat dan tegar, mampu membesarkan kami dengan segala problematika kehidupan. 

Sedangkan Ayahku, mantan prajurit TNI yang terlupakan, tanpa tunjangan hidup. Bukan salah pemerintah sih, hanya kami waktu itu (Bapakku) tak pernah memprosesnya. 

Bapakku, dulu (katanya) dibawah Komandan Jendral Yusuf yang sudah almarhum. Oh, ya usia beliau (Bapakku) *jangan kaget* memasuki satu abad lebih. Tapi alhamdullilahnya beliau seorang yang kuat, jarang sekali kulihat sakit (dulu) tapi sekarang, sakit yang wajar dialami seorang yang sudah udzur, pikun dan diabtes plus sifat kanak-kanaknya mulai menerjang, kembali ke awal dilahirkan kala menjadi bocah yang butuh perhatian.


*Ahh, sudahlah. Aku jadi sedih kalau menceritakan kisah Bapakku ini*


Lembutnya lembayung yang mendekap khayalku sedari kecil, ternyata mampu memapahku hingga seperti ini. Ya, aku! yang sekarang menepi dan mendayung diarena maya. 

Bahagia bercampur sendu setelah mengenal dan menjalani keasikannya di dunia maya. Pikiran dan wawasanku terbuka lebar, seluas angkasa yang tak bertepi. Meski belum sempurna keahlianku, namun mampu memberi ciri sedang apa dan akan apa aku kelak?!

Meskipun ada banyak kekurangan yang kumiliki terlebih dengan Disleksia. Menjadikanku seorang yang ingin serba tahu, serba mencari apa dan bagaimana jalan hidup yang akan diraih. 

Sedari kecil aku menyukai dunia penulisan tapi tanpa dukungan orang sekitar. Mencari sendiri! mencoba memahami sedikit demi sedikit makna bertutur kata dalam kalimat. Kadang membaca dari sisa sisa sobekan kertas bungkus makanan, seringkali menjadi pemicu untuk menuangkan ide dikepala. Koran sampai teks iklanpun kubaca saking senangnya membaca.

Cita-citaku waktu kecil, ingin menjadi Polwan, Kowad, penyanyi dan penulis. Tiga impianku kandas, namun ada asa pada keinginan terakhir. Mudah-mudahan yang ini mampu dan harus kuwujudkan, amiin. 

Pendidikanku tidak tinggi, maklum kendala biaya. Tapi itu tidak menjadi masalah bukan? Yang penting apa yang disampaikan orang, aku mampu menjabarkannya dengan jawaban, 'mudah-mudahan' baik.
  
Pengharapan terbesarku sampai saat ini yaitu, membahagiakan kedua orangtua. Memberikan apa yang dulu belum mereka rasakan. Karena mereka telah melahirkanku kedunia ini, tanpanya? Entahlah..?!

Mungkin ini tidak menjawab seutuhnya tentang asal usulku, karena ada sisi lain yang memang menjadi wilayah privasiku. Tapi tidak menutup kemungkinan suatu saat kan kuutarakan juga, menunggu momen yang tepat dengan suasana dan kondisi. 


"Mengejar mimpi yang selalu kuimpikan, dan kan kubuktikan",  

"hidup menurutku tak sekedar mengerti dan tahu, tapi harus ada pemahaman disetiap perjalanannya".


Sifat asliku yang suka bercanda dan sedikit norak, tapi dilain waktu saat bekerja, aku butuh keseriusan dan tak suka diganggu. Karena semua hal itu ada pada tempatnya. Ya, terkadang suka keluar jalur juga *dikit* hihihi.

* Inilah garis besar tentangku. Selebihnya? silahkan menjadi teman dan sahabat, biar lebih jelas*

Senin, 28 Oktober 2013

Lupa Antara Nge-Blog Sumpah Pemuda dan Aksi Demo

Lupa Antara Nge-Blog Sumpah Pemuda dan Aksi Demo. Semestinya saya mampu mengapresiasikan segala bentuk informasi, yang terang terangan terus terupdate pada TL, entah itu twitter ataupun facebook. Banyak info yang bikin saya greget. Pengen nge-Blog koneksi selalu jadi alasan klise, hehehe *emang bener ko* 


Lupa Antara Nge-Blog Sumpah Pemuda dan Aksi Demo


Terlebih saat dimana ketentuan dicanangkannya hari ng-Blog Nasional, ni tangan gatel pengen cuwat cuwit mijitin kibot, apadaya semua saya simpan didraf word. Eh.. sekarang malah ada hari Sumpah Pemuda (asli saya Lupa Antara Nge-Blog Sumpah Pemuda dan Aksi Demo) hehehe. 

Begitu banyaknya isi hati tentang semua hal menyangkut Blog. Apa itu nge-Blog? buat apa nge-Blog?. Tetapi nyata nyata berkat nge-Blog, saya mampu bersosialisasi dengan para intelektual dibidang penulisan, wawasan bertambah. Dan jangan tanya, tamanpun nambah terus perharinya. 

Diskusi sana sini menjadikan saya sebagai pribadi yang kuat dan paham akan kesesuaian hidup, berkata dan berkalimat. Walaupun masih jauh dari kata sempurna. Bewe sana sini, meski kadang suka bete kalau komen dimoderasi apalagi pake captha segala, mau komen suka ga jadi, hihihi.. maapkeun ya sobat?!

Tapi setiap postingan teman selalu saya kunjungi ko, tapi komennya kebawa balik alias ga ninggalin jejak, selalu saya lupa hal yang satu itu. Maapkeun lagi yaa.. Saya memang pelupa dan suka tiba tiba los memori gitu, hmm entah kenapa, saya sendiri kurang tahu. Mungkin karena Lupa Antara Nge-Blog Sumpah Pemuda dan Aksi Demo.


Dan sekarang ada hari Sumpah Pemuda, kembali lagi dengan alasan yang sama "lupa" duhduh, kenapa sihh dengan diriku, selalu lupa, lupa dan lupa. Ini mungkin citra anak bangsa sekarang, yang sedikit melupakan sejarah. Bukan karena tidak tahu tapi tidak adanya hasrat mengetahui *jujur lebih baik toh?!* Ada sedikit malu dalam diri. 

Tapi untungnya secara tidak langsung, media elektronik membantu mengingatkan adanya hari Sumpah Pemuda itu. Bangga sekaligus terharu dalam setiap tayangan TV memperlihatkan semangat anak muda saat ini, juga prestasi-prestasi yang bisa membanggakan dan mengharumkan nama bangsa. 

Memang benar jiwa nasionalis kita sedikit memudar ya? mungkin karena berbagai bentuk kecanggihan dunia sosial media. Untuk itu, ada saat dimana kita harus mampu menghargai jasa para pejuang muda yang dengan semangatnya mempersatukan keanekaragaman dalam persatuan dan kebahasaan. 

Saya walaupun setengah muda (hehehe), tetap jiwa muda dan semangat ini selalu ada, mudah-mudahan kedepan ada prestasi yang mampu dibanggakan, karena saya sedang merintis kearah itu, doakan ya temans temans.

Cuma ada sedikit rasa miris dihati, kenapa pula hari ini harus dibarengi dengan aksi demo buruh (pake aksi mogok nasional segala), apa tanda dari semua ini? sebegitu harusnya-kah demokrasi mengeluarkan pendapat? belum lagi dengan aksi-aksi yang tidak bertanggung jawab (perusakan sarana umum), dan itu tentunya merugikan rakya lain dan negara pula. Demokrasi memang seharusnya kita dengungkan, dengan cara yang bijak tentunya. 

Sebagai rakyat, saya hanya ingin meneruskan kalimat dari semangat para pendahulu. Tak mampu memberi lebih tapi setidaknya saya masih punya rasa menghargai. Dan ternyata dengan nge-Blog di hari Sumpah Pemuda yang diwarnai aksi Demo Buruh. Menjadikan rasa apresiasi dalam diri tertuangkan. ya, walaupun awalnya Lupa Antara Nge-Blog Sumpah Pemuda dan Aksi Demo. hehehe..