Dua sososok terpanggang dalam pikiran. Aku tak sengaja menelisik keduanya. Marah, kesal beradu karena mereka tak lagi mau melihatku. Nyinyir kalimat yang pertama. Tidak konsisten kata yang kedua. Hai, aku bukan sosok yang sempurna!.
Rabu, 08 Januari 2014
Minggu, 15 Desember 2013
Kapan Nge-Blog?!
Yuhuuu..,Saya kembali!, setelah hampir sebulan ga ngeBlog rasanya ada sesuatu yang hilang. Emak so sibuk ini, sekarang-sekarang agak keteteran ngolah waktu *alesan!*. Yoii, kesibukan di kantor yang tidak bisa dikecualikan membuatku tak mampu konstan menulis. Pagi sebelum ngantor ngurus anak-anak yang abegeh, belum lagi si baby yang baru menginjak usia 11 bulan, semua butuh perhatian banget. Bapak-nya? Tersingkirkan sejenak, hehehe *ada waktunya ko* (apaan seeh?!). Yang jelas ditengah padatnya jadwal mengurus ini itu di rumah dan kantor, saya selalu berusaha menyapa teman-teman di dumay, walaupun sekedar nge-like atau komen pendek. Dan maafkeun saya belum bisa BW di rumah teman-temans sekalian.
Begitu banyaknya acara para Blogger-pun tak menampik hasrat kepengen ikutan, terlebih lagi banyak GA yang mustinya ku ikuti, apa daya raga dan fikiranku tersambar ketidaksingkronan waktu. Ya, sebenarnya sih bisa saja nyuri waktu malam kala semua orang di rumah terlelap. Tapi fisik ini sengaja kusisakan buat esok hari. Mirisnya lagi, karena ini pilihan. Terpaksa si baby kutitipkan, beruntung-nya orang yang menjaga si baby tak lain adalah tetangga dekat rumah. Jadi tidak begitu cemas. *dengan bayaran tentunya*. Hati dan pikiran seringkali bentrok, "mana yang harus diutamakan?!" Terus terang saya tidak bisa menjawabnya. Karena semua berjalan pada porsinya masing-masing *bukan begitu?* hehehe.
Juga dengan cuaca yang akhir-akhir ini selalu turun hujan, karena bawaanku ngojek sendiri ke kantor, alhasil mau tidak mau selalu kejebak banjir. Macet? Itu so pasti, tapi bukan halangan ko buat saya 'suerr'. Cuma sedikit yang kucemaskan, yaitu kala motor kejebak banjir *hiks* Celingukan minta tolong plus air mata. Sedih karena ga bisa benerin motor, ga ngerti mesin. Untungnya para kaum adam dijalanan selalu sigap kala ada perempuan yang butuh pertolongan, dan bayaran untuk jasanya? hihihihi.. saya kasih senyum manis dan ucapan terima kasih. Habisnya mau ngasih bayaran suka pada nolak *lain soal kalau ke bengkel* Namun yang terpenting selalu kusisipkan doa buat mereka.
Meskipun tulisan ini tidak dibuat panjang lebar, setidaknya hasrat ng-Blogku tersalurkan. Ngiri sih lihat teman-teman yang selalu eksis (10 jempol deh buat mereka) *lah jempol tanganku kan dua? sisanya? yaa, hasil kumpulan dari teman yang sehati hihihi*
Begitu banyaknya acara para Blogger-pun tak menampik hasrat kepengen ikutan, terlebih lagi banyak GA yang mustinya ku ikuti, apa daya raga dan fikiranku tersambar ketidaksingkronan waktu. Ya, sebenarnya sih bisa saja nyuri waktu malam kala semua orang di rumah terlelap. Tapi fisik ini sengaja kusisakan buat esok hari. Mirisnya lagi, karena ini pilihan. Terpaksa si baby kutitipkan, beruntung-nya orang yang menjaga si baby tak lain adalah tetangga dekat rumah. Jadi tidak begitu cemas. *dengan bayaran tentunya*. Hati dan pikiran seringkali bentrok, "mana yang harus diutamakan?!" Terus terang saya tidak bisa menjawabnya. Karena semua berjalan pada porsinya masing-masing *bukan begitu?* hehehe.
Juga dengan cuaca yang akhir-akhir ini selalu turun hujan, karena bawaanku ngojek sendiri ke kantor, alhasil mau tidak mau selalu kejebak banjir. Macet? Itu so pasti, tapi bukan halangan ko buat saya 'suerr'. Cuma sedikit yang kucemaskan, yaitu kala motor kejebak banjir *hiks* Celingukan minta tolong plus air mata. Sedih karena ga bisa benerin motor, ga ngerti mesin. Untungnya para kaum adam dijalanan selalu sigap kala ada perempuan yang butuh pertolongan, dan bayaran untuk jasanya? hihihihi.. saya kasih senyum manis dan ucapan terima kasih. Habisnya mau ngasih bayaran suka pada nolak *lain soal kalau ke bengkel* Namun yang terpenting selalu kusisipkan doa buat mereka.
Meskipun tulisan ini tidak dibuat panjang lebar, setidaknya hasrat ng-Blogku tersalurkan. Ngiri sih lihat teman-teman yang selalu eksis (10 jempol deh buat mereka) *lah jempol tanganku kan dua? sisanya? yaa, hasil kumpulan dari teman yang sehati hihihi*
Senin, 11 November 2013
Celoteh Niar #Puisi
Ayah, kenapa ibu ga ada?
sang Ayah berkata"Ibumu telah dipelukannya sang Pencipta.."
"Ayah, kenapa aku selalu teringat Ibu?
sang Ayahpun berucap."karena kau dilahirnya, nak!"
"lalu kenapa ibu pergi?
Ayah sejenak terdiam seraya berucap
"Nak, takdir manusia tiada yang
mampu melawannya.."
"Lalu kenapa juga ayah tak mencari pengganti ibu?!"
Ayah berujar"Nak, sebelum adanya Ibumu, Ayahmu ini telah jauh mencintai dan menyayanginya.
Ibumu seorang Wanita, seorang Perempuan dan seorang Panglima dikaumnya.
"Ayah tak mampu melibas perasaan ini pada selain darinya".
Niar tersenyum bangga
lalu diayunkan tangan Ayahnya,
"Ayo, Yah.. kita bermain ditempat Ibu..!"
Ayahpun meneteskan air mata.
sang Ayah berkata"Ibumu telah dipelukannya sang Pencipta.."
"Ayah, kenapa aku selalu teringat Ibu?
sang Ayahpun berucap."karena kau dilahirnya, nak!"
"lalu kenapa ibu pergi?
Ayah sejenak terdiam seraya berucap
"Nak, takdir manusia tiada yang
mampu melawannya.."
"Lalu kenapa juga ayah tak mencari pengganti ibu?!"
Ayah berujar"Nak, sebelum adanya Ibumu, Ayahmu ini telah jauh mencintai dan menyayanginya.
Ibumu seorang Wanita, seorang Perempuan dan seorang Panglima dikaumnya.
"Ayah tak mampu melibas perasaan ini pada selain darinya".
Niar tersenyum bangga
lalu diayunkan tangan Ayahnya,
"Ayo, Yah.. kita bermain ditempat Ibu..!"
Ayahpun meneteskan air mata.
Cerita ABG #Ibu Tiri-Ku Lebay
Angin mendesir menerpa dedaunan di beranda rumah yang memang cukup luas. Rumah itu berada dikawasan elite kota Kembang Bandung. Sayangnya, rumah itu hanya ditempati dua insan manusia, anak dan bapaknya. Sedangkan sosok perempuan-nya telah tiada, meninggal karena sakit. Sebut saja nama anak itu Mimin dan ayahnya bernama Pak Momon dan nama Ibu anak itu (katanya) Mumun. Lengkap sudah urutan nama yang ga bisa dilupakan orang.
Senja itu Mimin dan Pa Momon terlihat asik ngobrol diberanda, ditemani goreng pisang dan teh yang masih mengepul. Mereka terlibat pembicaraa yang lumayan asik didengar.
Pa Momon : "Min, Bapa sebetulnya mau ngomong sesuatu..!"
Mimin : "Emang Bapa mau ngomong apa? Mimin pasti dengerin ko?!"
Pa Momon : "Gini Min, Bapa-kan sudah lama ditinggal Ibumu, Kasian juga sama Mimin ga ada yang nyediain makanan atau beberes rumah.."
Mimin : "Kan bisa ambil pembantu Pa!"
Pa Momon: "Iya, Bapa juga tahu itu, tapi bukan itu yang Bapa maksud Min..!"
Mimin : "Emang maksud Bapa apa? Oh Mimin tahu, pasti Bapa pengen punya pengganti Emak-kan..!?"
Pa Momon: "Nah, itu..itu, bener. Maksud Bapa yaa.., begitu itu.." (semangat)
Mimin : "Emang udah ada calonnya, yaa..? Bapa keliatan semangat gitu.."
Pa Momon: "Hmm.. ada sih, tapi Bapa ragu mau ngenalin ke Mimin, takut Mimin ga setuju.."
Mimin : "Yaelah Paa, kenapa juga harus ragu! Kalau Bapak cocok, Mimin setuju setuju aja.."
Pa Momon: "Beneran nih, min?! Ga bakalan nyesel-kan nantinya..?"
Mimin : "Idiih, Bapa ini gimana sih, kan tadi Mimin udah bilang.." (muka jutek)
Pa Momon: "Okelah kalu begitu, besok Bapa ajak kesini, yaa..?"
Keesokan harinya Pa Momon dengan dandanan necis plus parfum yang aduhai aromanya, (bisa bikin para cewek keblinger) datang ditemani seorang perempuan yang lumayan cantik dan seksi juga cara berpakaiannya yang masa kini banget. Memperkenalkan diri dengan nama Mince (peranakan Manado).
Pa Momon: "Min, kenalin temen Bapak, yang diceritakan kemarin.."
Mimin : "Oh, iya.. Selamat datang tante..!" (sambil menjabat tangan Mince)
Mince : "Waah ternyata Mimin cantik, ya.." (bla-bla dengan basa-basi panjang lebar bikin kuping mimin pengen dijejali kapas).
Setelah pertemuan itu, Dua minggu kemudian disepakati hari nikahan Pa Momon dan Tante Mince. Dengan upacara sederhana berlangsunglah perhelatan itu.
Senja itu Mimin dan Pa Momon terlihat asik ngobrol diberanda, ditemani goreng pisang dan teh yang masih mengepul. Mereka terlibat pembicaraa yang lumayan asik didengar.
Pa Momon : "Min, Bapa sebetulnya mau ngomong sesuatu..!"
Mimin : "Emang Bapa mau ngomong apa? Mimin pasti dengerin ko?!"
Pa Momon : "Gini Min, Bapa-kan sudah lama ditinggal Ibumu, Kasian juga sama Mimin ga ada yang nyediain makanan atau beberes rumah.."
Mimin : "Kan bisa ambil pembantu Pa!"
Pa Momon: "Iya, Bapa juga tahu itu, tapi bukan itu yang Bapa maksud Min..!"
Mimin : "Emang maksud Bapa apa? Oh Mimin tahu, pasti Bapa pengen punya pengganti Emak-kan..!?"
Pa Momon: "Nah, itu..itu, bener. Maksud Bapa yaa.., begitu itu.." (semangat)
Mimin : "Emang udah ada calonnya, yaa..? Bapa keliatan semangat gitu.."
Pa Momon: "Hmm.. ada sih, tapi Bapa ragu mau ngenalin ke Mimin, takut Mimin ga setuju.."
Mimin : "Yaelah Paa, kenapa juga harus ragu! Kalau Bapak cocok, Mimin setuju setuju aja.."
Pa Momon: "Beneran nih, min?! Ga bakalan nyesel-kan nantinya..?"
Mimin : "Idiih, Bapa ini gimana sih, kan tadi Mimin udah bilang.." (muka jutek)
Pa Momon: "Okelah kalu begitu, besok Bapa ajak kesini, yaa..?"
Keesokan harinya Pa Momon dengan dandanan necis plus parfum yang aduhai aromanya, (bisa bikin para cewek keblinger) datang ditemani seorang perempuan yang lumayan cantik dan seksi juga cara berpakaiannya yang masa kini banget. Memperkenalkan diri dengan nama Mince (peranakan Manado).
Pa Momon: "Min, kenalin temen Bapak, yang diceritakan kemarin.."
Mimin : "Oh, iya.. Selamat datang tante..!" (sambil menjabat tangan Mince)
Mince : "Waah ternyata Mimin cantik, ya.." (bla-bla dengan basa-basi panjang lebar bikin kuping mimin pengen dijejali kapas).
Setelah pertemuan itu, Dua minggu kemudian disepakati hari nikahan Pa Momon dan Tante Mince. Dengan upacara sederhana berlangsunglah perhelatan itu.
Sabtu, 09 November 2013
Proyek Itu Bernama "Enok"
Entah sejak kapan impian itu selalu kubangun untuk
mendatangkan keinginan yang sebenarnya. Mungkin yang aku ingat kala perasaan
yang tersisihkan diantara kehidupan yang dijalani. Dimana setiap jalan yang
kutempuh selalu saja terantuk dan berhenti dipikiran saja. Padahal selalu
kulakukan beberapa motede dalam melaksanakan beberapa syarat dan prasyarat,
entah itu melakukan riset atau sekedar menguji perasaan sendiri. Kubangun angan
itu dalam setiap ingatan, sebelum tidur dan bangun dari tidur. Namun apadaya semua
ya, itu tadi hanya berjalan dalam pikiranku semata. Dalam cerita itu kuselaraskan diriku sebagai
artis dalam setiap episode.
Niat
Tersimpan dalam khayalan semata, kubangun terus menerus impian itu. Sedikit demi sedikit mencurahkannya lewat catatan. Disetiap draff yang tersimpan selalu digaris bawahi. Sekedar mengingatkan tujuan. Menjadikan diri sebagai nara sumber, reportase sana-sini. Ternyata menambah semangat mengejar impian itu. Meskipun ada banyak kendala, entah itu waktu yang harus dibagi antara pekerjaan kantor dan urusan rumah tangga. Belum lagi dengan keberadaan bayi yang membutuhkan perhatian lebih. Tetap niatan itu menjadi skala prioritas, untuk apa? Untuk kesejahteraan dan masa depan anak-anak.
Usaha
Dalam melaksanakan apa yang sedang dibangun, tidak lupa meminta saran dari para ahli dibidang penulisan, mulai dari cara menceritakan, menarik minat pembaca dan trik supaya pembaca bisa larut dalam cerita yang disajikan. Tidak sampai disitu usaha dalam mewujudkannya, banyak membaca hasil karya orang lain, berinteraksi dengan orang-orang. Karena ternyata, mereka bisa menjadi inspirasi dari sebuah cerita yang akan dibangun. Tidak merasa minder apabila ada banyak kritikan, karena sebuah ketidaksesuaian dalam cara berpikir bisa mengembangkan segala imajinasi yang dirancang. Justru harus semakin tertantang dan mencoba untuk membuktikannya. Meski itu memakan waktu yang tidak singkat, sabar dan banyak berdoa. Insya Allah Tuhan maha mengetahui dan maha segalanya. Karena niat dan usaha yang dilakukan pasti ada imbalannya, apapun bentuknya itu.
Rencana Cerita
Sebut saja namanya “Enok” ya sebuah nama yang desa banget dan agak sedikit norak atau jadul. Dia adalah gambaran dimana aku
ingin menjadi seperti dirinya kelak. Seorang gadis desa yang lugu dan plos tapi
mempunyai kemauan keras dalam perubahan dihidupnya. Enok pergi dari desa ke
kota hanya untuk merubah nasibnya di kampung, dimana ia dan keluarganya hanya
mampu menjadi budak tuan tanah. Di kota yang disinggahi, bertemulah Enok dengan seorang bule yang ternyata adalah seorang penulis dan sutradara kenamaan di Amerika sana, ia mungkin
sudah ditakdirkan untuk bernasib mujur. Bertemu dengan seorang ekspatriat yang
kebetulannya lagi adalah seorang penulis handal. Dan Enok tidak
mengetahui ini. Awalnya Enok dipekerjakan sebagai asisten rumah tangga. Dalam perjalanan cerita itu ada banyak intrik antara penulusuran sang bule tentang kehidupan yang coba dituangkan kedalam tulisan, juga usaha Enok mengikuti jejak sang majikan sampai harus bermasalah dengan Kedutaan. Ending cerita, hasil karya Enok ternyata dijadikan sebuah film yang mendunia. Tapi sang majikan ternyata tutup usia kala Enok mencapai keberhasilannya. Dan meninggalkan warisan, sebuah tulisan rahasia.
Akhir Yang Membaggakan
Memang cukup lama sebuah proses yang dibangun dalam cerita itu, kira-kira sekitar dua puluh tahun yang lalu. "Ternyata aku telah mengangankannya sejak lama". Dan kudapati semua yang harapkan, materi keilmuan dan kesejahteraan. Terkenal dengan karya yang fenomenal, sungguh telah menjadi angan yang terpendam. Tinggal pelaksanaannya, mudah-mudahan segera terwujud.
Kamis, 07 November 2013
Video ABG Semangat
ABG ini namya Kevin Attar Abraari,
Ia anak sulungku yang baru menginjak usia enam belas tahun pada Oktober kemarin. Kevin sekarang kelas satu SMA di SMAN 1 Cileunyi. Minatnya pada bidang musik membuatnya selalu ingin belajar dan belajar tentang musik, terutama alat musik Gitar. Pertama kalinya Kevin memiliki Gitar hadiah ulang tahun dari saya emaknya, dan gitar ini bukan gitar yang mahal. Karena sebenarnya Gitar ini kubeli dari adikku seharga seratus ribu rupiah. Itupun pake nyicil dulu hehehe.
Pertama saya ngasih kalau tidak salah lima puluh ribu, selebihnya..? lupa-lupa inget (udah bayar belum, ya?) Tapi adikku tak pernah rasanya menanyakan sisa dari tunggakan itu, walah!! sungguh terlalu!
ABG yang Semangat
Dengan semangat Kevin selalu memetik Gitar kapan dan dimanapun waktunya ia berada, malah kadang sampai lupa waktu. Asli lho! Anakku ini belajar sendiri, padahal Papa-nya dulu seorang pemain melodi. Katanya biarin dia bereksplorasi sendiri, nanti juga ketemu jalannya. Papa-nya paling cuma memperhatikan dari jauh, kalau-kalau ada nada yang salah baru ia bertindak. Dalam Video ABG ini Kevin memang terlihat menggebu, maklum jiwanya lagi berkembang, ingin berharap apresiasi lebih dari kawan-kawannya.
*Ketika merekam Video ABG ini, Kevin masih SMP dan cara memetik Gitarnya-pun masih belum halus, tapi saya merasa bangga dengan kemauannya. Tidak pantang menyerah, coba simak..
Dan bangganya saya sebagai orang tua, saat ini Kevin mampu membeli Gitar dari hasil tabungannya sendiri, ia (katanya) sudah mengumpulkannya selama tujuh bulan. Terkadang pula ia dimintai bantuan teman buat mengajarkan cara memetik gitar, stel senar gitar dengan bayaran lumayan buat beli bakso.. hehehe.
Inilah cerita singkat sosok anak sulungku.
"Artikel ini turut mendukung gerakan PKK Warung Blogger"
Ia anak sulungku yang baru menginjak usia enam belas tahun pada Oktober kemarin. Kevin sekarang kelas satu SMA di SMAN 1 Cileunyi. Minatnya pada bidang musik membuatnya selalu ingin belajar dan belajar tentang musik, terutama alat musik Gitar. Pertama kalinya Kevin memiliki Gitar hadiah ulang tahun dari saya emaknya, dan gitar ini bukan gitar yang mahal. Karena sebenarnya Gitar ini kubeli dari adikku seharga seratus ribu rupiah. Itupun pake nyicil dulu hehehe.
Pertama saya ngasih kalau tidak salah lima puluh ribu, selebihnya..? lupa-lupa inget (udah bayar belum, ya?) Tapi adikku tak pernah rasanya menanyakan sisa dari tunggakan itu, walah!! sungguh terlalu!
ABG yang Semangat
Dengan semangat Kevin selalu memetik Gitar kapan dan dimanapun waktunya ia berada, malah kadang sampai lupa waktu. Asli lho! Anakku ini belajar sendiri, padahal Papa-nya dulu seorang pemain melodi. Katanya biarin dia bereksplorasi sendiri, nanti juga ketemu jalannya. Papa-nya paling cuma memperhatikan dari jauh, kalau-kalau ada nada yang salah baru ia bertindak. Dalam Video ABG ini Kevin memang terlihat menggebu, maklum jiwanya lagi berkembang, ingin berharap apresiasi lebih dari kawan-kawannya.
*Ketika merekam Video ABG ini, Kevin masih SMP dan cara memetik Gitarnya-pun masih belum halus, tapi saya merasa bangga dengan kemauannya. Tidak pantang menyerah, coba simak..
Dan bangganya saya sebagai orang tua, saat ini Kevin mampu membeli Gitar dari hasil tabungannya sendiri, ia (katanya) sudah mengumpulkannya selama tujuh bulan. Terkadang pula ia dimintai bantuan teman buat mengajarkan cara memetik gitar, stel senar gitar dengan bayaran lumayan buat beli bakso.. hehehe.
Inilah cerita singkat sosok anak sulungku.
"Artikel ini turut mendukung gerakan PKK Warung Blogger"
LOBI BAR ITU ADA DI MEKKAH
Hidup dengan segala permasalahan, membuat-nya menjadi seorang pribadi yang tegar dan pantang menyerah
Berawal dari mimpinya sahabatku LOBI BAR ITU ADA DI MEKKAH Kisah nyata ini sengaja kutulis atas seijin dari yang mengalaminya. Sebut saja namanya Mia, ia adalah sahabatku yang pernah satu kos-an kala kami masih remaja. Seringnya kami bersama dalam suka duka, membuat ku sangat mengenal segala kepribadian baik luar maupun dalamnya. Mia, seorang gadis yang kehidupannya pas-pasan mengarungi jalan hidup dengan berbaur diatara teman-teman yang jauh diatas level tingkatannya. Ia sengaja menjerumuskan diri dalam dunia malam. Bukan keinginannya sebenarnya ia berbuat demikian, itu ia lakukan sekedar bertahan hidup dari carut-marut keluarganya. Mia pula yang menjadi tulang punggung keluarga.
Bekerja Paruh Waktu
Mia memang menyukai tantangan terlebih lagi saat menjalani pekerjaannya. Apa saja ia kerjakan selama itu menghasilkan materi. Tapi bukan berarti Mia seorang yang matrelialistis, ia melakukan semua itu demi mencukupi kebutuhan orang-tua dan adik-adiknya, terutama biaya sekolah. Bekerja disebuah Salon dan kebetulan aku yang menjadi mentornya sebagai asisten staylist. Mia tidak memiliki ijasah formal dalam bidang ini, tapi aku melihat kesungguhan dalam mendalami pekerjaannya. Cepat tanggap dan mudah mengerti apa yang ku ajarkan membuat Mia selalu bisa ku andalkan. Dan salutnya lagi ia ternyata nyambi bekerja di sebuah Restoran malam. Jam delapan pagi jadwal masuk kerja di Salon sampai jam enam sore, setelahnya dari jam setengah tujuh malam sampai jam satu malam, Mia bekerja paruh waktu. Tak pernah kulihat ia merasa kecapian atau lelah menjalani dua pekerjaan yang pastinya menguras energi. Selalu riang dan menyenangkan. disinilah awal mimpi LOBI BAR ITU ADA DI MEKKAH.
Namun lama kelamaan kulihat Mia makin hari makin menyusut bobot tubuhnya. Kurus kering dan sering ku lihat raut wajah yang kusam dan mata memerah seperti habis minum minuman keras. Tercium bau alkohol dari mulutnya. Setelah memasuki minggu ke empat dipekerjaan barunya, ternyata membuat Mia luluh dan menyerah di Salon. Ia mengundurkan diri. Tapi aku mengerti, bisa dibayangkan bekerja didunia malam walaupun itu sebuah restoran tetap saja akan ada efek dalam pergaulannya. Belum lagi teman-teman barunya, selalu mengajak kesana-sini. Entahlah apa yang diperbuat selanjutnya. Namun kami tetap berhubungan dengan baik. Mia selalau mencurahkan segala kegalauan dan masalah yang menimpanya. Dan aku selalu menjadi pendengar yang baik.
Tubuh Itu Akhirnya Ambruk
Mia tetap menjadi teman kosku yang baik. Tiap menjelang keberangkatan menuju tempat kerja, ia selalu berpamitan padaku, serasa aku ini Kakaknya. Sibuk dengan dunia malam membuat Mia sedikit melupakan kesehatan. Pernah sekali waktu aku diajak ketempat kerjanya. Memang sebuah restoran tapi, alamak! dilantai atas restoran itu ternyata ada pub-nya juga. Kata Mia kadang ia paruh waktu juga disana dengan imbalan sepuluh ribu rupiah perjam-nya (waktu itu tahun 1995) ya, dengan materi sebegitu membuatnya selalu semangat. Karena kutahu Mia tidak pernah mengeluh soal bayaran, berapapun ia terima asal bisa menyambung hidup. Miris sekaligus sedih melihatnya. Pergi malam pulang pagi itulah Mia sekarang. Sedikit demi sedikit penghasilannya mulai terlihat dari beberapa barang yang dimilikinya. Ia sekarang mampu membeli apapun yang dikehendaki, termasuk lancarnya kiriman uang buat keluarganya. Ada perasaan lega melihat keberhasilannya. Namun aku selalu mewanti-wantinya agar menjaga diri dengan baik, "pekerjaan apapun selama dilakukan dengan niat baik, Insya Allah Tuhan itu maha mengerti ko" itu yang selalu ku katakan pada Mia.
Aku tak pernah mengorek lebih jauh apa yang dilakukan setelah pulang dari pekerjaannya. Karena ku tahu jam kepulangannya jam satu malam selebihnya? who know? Itu bukan urusanku. Seringnya melihat Mia pulang dalam keadaan mabuk berat membuatku kadang bertanya 'apa sesungguhnya yang dicarinya?'. Suatu hari Mia menangis dihadapanku, ia mengatakan bahwa hidupnya serasa hampa, letih, lelah dengan semua yang dijalaninya. Desakan ekonomi dari keluarganya dan perubahan hidup yang diinginkannya. Menjadikan Mia saat ini pribadi labil dan kosong. Hidup tanpa keluarga yang diharapkannya dengan segala kebersamaan dan petuah pepatah dari orang tua, membuat Mia mencari jalan sendiri, apa itu hidup dan untuk apa ia hidup dengan segala keterbatasan yang ada membuat Mia menjadi seorang yang berjiwa besar, Ia tak pernah malu mengungkapkan jati dirinya, siapa dan dari mana jika ada teman yang bertanya silsilah keluarga.
Tiba pada suatu hari kulihat Mia sempoyongan, tubuhnya terkulai lemas dan tiba-tiba ambruk dihadapanku. "Mba aku kayaknya sakit! itulah kata-kata terakhir yang diucapkannya padaku, 'kenapa? karena setelahnya Aku diharuskan berpindah tugas mengurus cabang Salon di lain tempat dan jarak yang lumayan jauh. Karena kesibukannku mengurus pekerjaan, tak lagi kudengar tentang Mia. Aku tenggelam dalam duniaku sendiri. "Ah.. Mia, maafkan aku kala itu tak bisa menjadi tempat sandaranmu lagi" Tapi aku mendengar kisahmu dari teman kita, bahwa kau sewaktu dalam keadaan sakit, tanpa didampingi seoranpun, sakitmu mungkin bertubi tubi. Kau berjuang melawannya sendirian. Yang ku dengar dari temanku ternyata Mia sakit typus, tiga minggu lamanya Mia berbaring lemah tak berdaya, hanya tetesan air mata tanda kekuatan. Untungnya ternyata saat itu Mia menemukan seorang tambatan hati yang dengan suka rela merawat dan menyayanginya. Lobi bar itu ada di Mekkah Ia seorang lelaki yang mempunyai kehidupan tak lebih dari kehidupan yang Mia miliki. Hanya perbedaanya lelaki itu berasal dari keluarga mampu.
Pertemuanku dan Mimpinya Mia
Sebulan dua bulan terlewati, aku ternyata merindukan Mia. Memasuki bulan ketiga sengaja pada hari libur kerja ku, ku luangkan waktu untuk menengok keadaan Mia. Pada pertemuan itu membuat kami saling berangkulan dan seolah pelukan Mia tak mau terlepas. Ada air mata kebahagian bercampur keharuan membuat Mia dengan semangat menceritakan segala kisah yang ku lewati. Lantas Mia menceritakan mimpinya padaku "mba, seminggu yang lalu mimpi LOBI BAR ITU ADA DI MEKKAH, tapi kenapa ya, dimimpiku itu aku berdiri di lobi bartender yang berada di Mekkah, sangat tak masuk akal!" ucap Mia. Aku sedikit terkejut dan tertegun sejenak, ada relung dalam batinku yang berucap "seandainya Mia tahu apa arti mimpinya?" Dengan menghela nafas kukatakan pada Mia dengan hati-hati. "Mia, sesungguhnya Allah memberimu hidayah agar kamu cepat berlalu dan meninggalkan kehidupan yang saat ini dijalani. Allah terlalu menyayangimu, Ia tidak ingin kau terus terjerumus dalam lembah dosa yang tak berkesudahan" Tanpa bermaksud mengguruinya kukatakan semua menurut logika semata.
Lalu ku tanya Mia "kamu masih dengan pekerjaanmu sekarang?" Mia hanya mengangguk pelan dan kulihat ada tetesan air mata dipipinya.
Seolah ada kesadaran tiba-tiba di pikiran Mia. Ia merangkulku dengan erat dan menangis sesengukan. Aku pun tak kuasa ikut larut dalam tangisannya. Lalu Mia berkata "Ia mba, kenapa juga ya dengan diri ku, aku kan orang miskin tak semestinya aku lebih memiskinkan diriku dengan pekerjaan ini, aku terlalu menikmati pekerjaanku tanpa melihat arah masa depan yang sesuai keinginan dan cita-cita ku. Terlena dengan hiruk pikuk dunia malam, clubing sana sini. Tak pantas aku berbuat demikian" Ku usap air mata Mia dan kukatakan "Sesal kini itu lebih baik Mia! Kamu tidak usah cemas, yang sudah terjadi terjadilah, saatnya buatmu meninggalkan semua itu hari ini, detik ini. ''Masih banyak pekerjaan lain yang halal menunggumu" Setelah pertemuan itu ada sedikit rasa resah mengingat mimpi Mia tentang LOBI BAR ITU ADA DI MEKKAH "Ya Allah begitu maha mulianya Engkau, Kau sisipkan mimpi kebaikan-Mu pada sahabatku. Aku memohon pada-Mu "Angkat derajat Mia, bimbing ia kembali ke jalan-Mu dan berikan ia kemudahan dalam mencari rezekinya, amiin ya rabb"
Mia Kini
Kini kehidupan Mia jauh lebih baik. Ia telah membina rumah tangga dengan lelaki yang telah menolongnya kala itu. Memiliki dua putra dan putri. Dan yang lebih hebatnya lagi, kini ternyata Mia mempunyai usaha sendiri yaitu Salon khusus muslimah dan Salonnya ini kian hari kian berkembang pesat. Mia sekarang bukan lagi Mia yang dulu selalu berasyik mashuk didunia malam. Kehidupan Mia malah melampaui keberhasilan ku, aku sadar dan tahu betul seperti apa tekad Mia, sedari dulu hingga kini. Keberhasilannya buah dari rasa lelah, keringat dan tak hentinya Mia mencari cara untuk berhasil berkat mimpi Lobi bar itu ada di Mekkah.
Berawal dari mimpinya sahabatku LOBI BAR ITU ADA DI MEKKAH Kisah nyata ini sengaja kutulis atas seijin dari yang mengalaminya. Sebut saja namanya Mia, ia adalah sahabatku yang pernah satu kos-an kala kami masih remaja. Seringnya kami bersama dalam suka duka, membuat ku sangat mengenal segala kepribadian baik luar maupun dalamnya. Mia, seorang gadis yang kehidupannya pas-pasan mengarungi jalan hidup dengan berbaur diatara teman-teman yang jauh diatas level tingkatannya. Ia sengaja menjerumuskan diri dalam dunia malam. Bukan keinginannya sebenarnya ia berbuat demikian, itu ia lakukan sekedar bertahan hidup dari carut-marut keluarganya. Mia pula yang menjadi tulang punggung keluarga.
Bekerja Paruh Waktu
Mia memang menyukai tantangan terlebih lagi saat menjalani pekerjaannya. Apa saja ia kerjakan selama itu menghasilkan materi. Tapi bukan berarti Mia seorang yang matrelialistis, ia melakukan semua itu demi mencukupi kebutuhan orang-tua dan adik-adiknya, terutama biaya sekolah. Bekerja disebuah Salon dan kebetulan aku yang menjadi mentornya sebagai asisten staylist. Mia tidak memiliki ijasah formal dalam bidang ini, tapi aku melihat kesungguhan dalam mendalami pekerjaannya. Cepat tanggap dan mudah mengerti apa yang ku ajarkan membuat Mia selalu bisa ku andalkan. Dan salutnya lagi ia ternyata nyambi bekerja di sebuah Restoran malam. Jam delapan pagi jadwal masuk kerja di Salon sampai jam enam sore, setelahnya dari jam setengah tujuh malam sampai jam satu malam, Mia bekerja paruh waktu. Tak pernah kulihat ia merasa kecapian atau lelah menjalani dua pekerjaan yang pastinya menguras energi. Selalu riang dan menyenangkan. disinilah awal mimpi LOBI BAR ITU ADA DI MEKKAH.
| gambar pribadi |
Namun lama kelamaan kulihat Mia makin hari makin menyusut bobot tubuhnya. Kurus kering dan sering ku lihat raut wajah yang kusam dan mata memerah seperti habis minum minuman keras. Tercium bau alkohol dari mulutnya. Setelah memasuki minggu ke empat dipekerjaan barunya, ternyata membuat Mia luluh dan menyerah di Salon. Ia mengundurkan diri. Tapi aku mengerti, bisa dibayangkan bekerja didunia malam walaupun itu sebuah restoran tetap saja akan ada efek dalam pergaulannya. Belum lagi teman-teman barunya, selalu mengajak kesana-sini. Entahlah apa yang diperbuat selanjutnya. Namun kami tetap berhubungan dengan baik. Mia selalau mencurahkan segala kegalauan dan masalah yang menimpanya. Dan aku selalu menjadi pendengar yang baik.
Tubuh Itu Akhirnya Ambruk
Mia tetap menjadi teman kosku yang baik. Tiap menjelang keberangkatan menuju tempat kerja, ia selalu berpamitan padaku, serasa aku ini Kakaknya. Sibuk dengan dunia malam membuat Mia sedikit melupakan kesehatan. Pernah sekali waktu aku diajak ketempat kerjanya. Memang sebuah restoran tapi, alamak! dilantai atas restoran itu ternyata ada pub-nya juga. Kata Mia kadang ia paruh waktu juga disana dengan imbalan sepuluh ribu rupiah perjam-nya (waktu itu tahun 1995) ya, dengan materi sebegitu membuatnya selalu semangat. Karena kutahu Mia tidak pernah mengeluh soal bayaran, berapapun ia terima asal bisa menyambung hidup. Miris sekaligus sedih melihatnya. Pergi malam pulang pagi itulah Mia sekarang. Sedikit demi sedikit penghasilannya mulai terlihat dari beberapa barang yang dimilikinya. Ia sekarang mampu membeli apapun yang dikehendaki, termasuk lancarnya kiriman uang buat keluarganya. Ada perasaan lega melihat keberhasilannya. Namun aku selalu mewanti-wantinya agar menjaga diri dengan baik, "pekerjaan apapun selama dilakukan dengan niat baik, Insya Allah Tuhan itu maha mengerti ko" itu yang selalu ku katakan pada Mia.
Aku tak pernah mengorek lebih jauh apa yang dilakukan setelah pulang dari pekerjaannya. Karena ku tahu jam kepulangannya jam satu malam selebihnya? who know? Itu bukan urusanku. Seringnya melihat Mia pulang dalam keadaan mabuk berat membuatku kadang bertanya 'apa sesungguhnya yang dicarinya?'. Suatu hari Mia menangis dihadapanku, ia mengatakan bahwa hidupnya serasa hampa, letih, lelah dengan semua yang dijalaninya. Desakan ekonomi dari keluarganya dan perubahan hidup yang diinginkannya. Menjadikan Mia saat ini pribadi labil dan kosong. Hidup tanpa keluarga yang diharapkannya dengan segala kebersamaan dan petuah pepatah dari orang tua, membuat Mia mencari jalan sendiri, apa itu hidup dan untuk apa ia hidup dengan segala keterbatasan yang ada membuat Mia menjadi seorang yang berjiwa besar, Ia tak pernah malu mengungkapkan jati dirinya, siapa dan dari mana jika ada teman yang bertanya silsilah keluarga.
Tiba pada suatu hari kulihat Mia sempoyongan, tubuhnya terkulai lemas dan tiba-tiba ambruk dihadapanku. "Mba aku kayaknya sakit! itulah kata-kata terakhir yang diucapkannya padaku, 'kenapa? karena setelahnya Aku diharuskan berpindah tugas mengurus cabang Salon di lain tempat dan jarak yang lumayan jauh. Karena kesibukannku mengurus pekerjaan, tak lagi kudengar tentang Mia. Aku tenggelam dalam duniaku sendiri. "Ah.. Mia, maafkan aku kala itu tak bisa menjadi tempat sandaranmu lagi" Tapi aku mendengar kisahmu dari teman kita, bahwa kau sewaktu dalam keadaan sakit, tanpa didampingi seoranpun, sakitmu mungkin bertubi tubi. Kau berjuang melawannya sendirian. Yang ku dengar dari temanku ternyata Mia sakit typus, tiga minggu lamanya Mia berbaring lemah tak berdaya, hanya tetesan air mata tanda kekuatan. Untungnya ternyata saat itu Mia menemukan seorang tambatan hati yang dengan suka rela merawat dan menyayanginya. Lobi bar itu ada di Mekkah Ia seorang lelaki yang mempunyai kehidupan tak lebih dari kehidupan yang Mia miliki. Hanya perbedaanya lelaki itu berasal dari keluarga mampu.
Pertemuanku dan Mimpinya Mia
Sebulan dua bulan terlewati, aku ternyata merindukan Mia. Memasuki bulan ketiga sengaja pada hari libur kerja ku, ku luangkan waktu untuk menengok keadaan Mia. Pada pertemuan itu membuat kami saling berangkulan dan seolah pelukan Mia tak mau terlepas. Ada air mata kebahagian bercampur keharuan membuat Mia dengan semangat menceritakan segala kisah yang ku lewati. Lantas Mia menceritakan mimpinya padaku "mba, seminggu yang lalu mimpi LOBI BAR ITU ADA DI MEKKAH, tapi kenapa ya, dimimpiku itu aku berdiri di lobi bartender yang berada di Mekkah, sangat tak masuk akal!" ucap Mia. Aku sedikit terkejut dan tertegun sejenak, ada relung dalam batinku yang berucap "seandainya Mia tahu apa arti mimpinya?" Dengan menghela nafas kukatakan pada Mia dengan hati-hati. "Mia, sesungguhnya Allah memberimu hidayah agar kamu cepat berlalu dan meninggalkan kehidupan yang saat ini dijalani. Allah terlalu menyayangimu, Ia tidak ingin kau terus terjerumus dalam lembah dosa yang tak berkesudahan" Tanpa bermaksud mengguruinya kukatakan semua menurut logika semata.
Lalu ku tanya Mia "kamu masih dengan pekerjaanmu sekarang?" Mia hanya mengangguk pelan dan kulihat ada tetesan air mata dipipinya.
| www.ahlusunah.org |
Mia Kini
Kini kehidupan Mia jauh lebih baik. Ia telah membina rumah tangga dengan lelaki yang telah menolongnya kala itu. Memiliki dua putra dan putri. Dan yang lebih hebatnya lagi, kini ternyata Mia mempunyai usaha sendiri yaitu Salon khusus muslimah dan Salonnya ini kian hari kian berkembang pesat. Mia sekarang bukan lagi Mia yang dulu selalu berasyik mashuk didunia malam. Kehidupan Mia malah melampaui keberhasilan ku, aku sadar dan tahu betul seperti apa tekad Mia, sedari dulu hingga kini. Keberhasilannya buah dari rasa lelah, keringat dan tak hentinya Mia mencari cara untuk berhasil berkat mimpi Lobi bar itu ada di Mekkah.