Skip to content
Seraut wajah yang abstrak akan makna dan disela cibiran dari bibirku yang mendesis dikejadian kemarin kau meluka
Membuang kesengajaan yang tiada guna karena sekilat kalimat yang tak kau faham bahwa aku menyadarkanmu
Kini semburatmu memintaku berbela bakti untuk mengurangi ketidakmampuan itu
Namun kalimatmu terlalu kusapa dan kini aku meronta merasakan derita
Diseka raut kalimatmu, diperdaya aku disisimu
Namun aku selalu patuh padamu
Silent is Golden!
BalasHapusReally...???
Hapus